READ MORE >>   Ramadhan 2004

Tulisan keempat dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Wangsa Tirta Ismaya.

Musim kering belum juga berakhir, walaupun hujan memang sudah mulai turun beberapa kali. Iklim memang sudah mulai berubah, tidak lagi mengikuti mantra pakem yang dipelajari sewaktu masih sekolah dasar dulu.

Sepertinya musim hujan terus bergeser, dan untuk sebagian orang kehadirannya setiap tahun dinantikan seperti halnya tamu agung. Musim hujan menyebabkan suasana yang lebih sejuk, air yang turun dengan melimpah dipandang sebagai berkah yang tak terkira. Anehnya, sering juga pada saatnya tiba malah menimbulkan segala macam bencana seperti banjir dan tanah longsor. Pada kala itu, musim hujan malah dikait-kaitkan sebagai hukuman buat manusia yang semena-mena terhadap lingkungan. Mother nature sedang marah, katanya. Wajar toch, setelah segala macam perbuatan manusia.

Ramadhan, kehadirannya dinanti-nantikan tidak jauh berbeda dengan musim hujan. Ramadhan membawa kesejukan bagi ruh setiap muslim yang sepanjang sebelas bulan terlalaikan oleh kesibukan duniawi. Seperti halnya hujan, bulan Ramadhan penuh dengan cucuran rahmat Allah: pintu-pintu ampunan dan rezeki dibuka lebar-lebar, iblis dan syaithan diikat sehingga umat Islam dapat beribadah dengan tenang dan khusyuk. Ada anehnya? Tentu, bulan Ramadhan juga terkadang dikaitkan dengan menurunnya etos kerja seorang muslim. Benar? Wallahu alam. Tapi satu yang pasti berbeda: tidak ada yang mengatakan bahwa Allah sedang marah.

Mungkin disinilah letak perbedaan musim hujan dan bulan Ramadhan dimulai. Terlepas dari segala macam tindakan yang diambil seorang muslim dalam sebelas bulan lainnya, Allah tidak marah. Allah maha pengampun, Allah justru membukakan pintu maaf untuk apapun yang telah terjadi. Kuncinya hanya satu, meminta maaf. Sulitkah? Tentu tidak karena meminta maaf “hanya” melibatkan harga dan kebanggaan diri, terlumurkan keegoisan dan keangkuhan: saat mulai berdo’a dan memohon agar dosa yang telah diperbuat dimaafkan diikuti dengan alasan dan cerita yang melatarbelakangi mengapa semuanya terjadi ….

Adalah harfiah bahwa manusia berbuat kesalahan dan kerusakan. Sering dikatakan bahwa mengulangi kesalahan yang sama adalah suatu kebodohan karena ketidakmampuan untuk mengambil hikmah dari kesalahan yang dibuat. Adalah baik jika dari suatu kesalahan yang terjadi dapat diambil hikmahnya lalu dijadikan pelajaran agar tidak terulang. Namun bukan berarti tidak ada hikmah dibelakang setiap dosa dan kesalahan yang diulangi. Setiap kali suatu kesalahan diulang, setiap kali itu pula seseorang ditantang untuk mau memohon maaf dengan menanggalkan lindungan rasa malu. Setiap kali taubat diantarkan ke hadapan Allah atas dosa yang dilakukan, entah berapa banyaknya pun telah diulangi, setiap kali itulah Allah melihat kecintaan hamba-Nya. Keinginan seorang hamba untuk memanjatkan taubat, memohon maaf dalam keadaan keimanan tercabik seperti apapun, menunjukkan keinginan suci dari ruh manusia untuk merasa dekat dengan Allah. Usaha untuk mendapatkan kembali perhatian dan kecintaan-Nya yang sebenarnya tidak pernah meninggalkannya.

Taubat yang sesungguhnya dipanjatkan dengan bersih, dilandasi oleh perasaan untuk berbuat lebih baik dan menghindari kesalahan yang telah diperbuat. Sekedar keinginan pun sudah merupakan awal yang bagi Allah bahkan sudah merupakan ungkapan taubat. Dengan tidak bermaksud bahwa manusia boleh melakukan dosa dan kesalahan dengan semena-mena karena Allah pasti akan memaafkan, namun berbuat dosa bukan akhir dari segalanya. Selalu ada kesempatan untuk memulai dan taubat adalah awal yang baik.

  READ MORE >>   Ramadhan 2004