READ MORE >>   Catatan Pribadi

“Wah…lucu banget yah tuh ustadz, saya sampe sakit perut nih ketawa-ketawa terus” ujar seorang ibu yang baru saja keluar dari sebuah majelis ta’ lim. “Iya bagus banget tuh ceramahnya…lucu. Kapan2 kita undang lagi yah ke mesjid kita.” sahut ibu2 yang satunya.

Begitu kira-kira komentar sebagian besar jamaah yang pada malam itu hadir di majelis ta’ lim Mesjid Al-Muslih. Memang, malam itu warga setempat terlihat berbondong-bondong mendatangi mesjid Al-Muslih guna memperingati Isra Mi’ raj junjungan kita Nabi Muhammad S.A.W. Setelah sebelumnya aparat pemerintah di lingkungan tersebut mengedarkan undangan bahwa pada malam itu akan hadir seorang ustadz yang cukup terkenal untuk memberikan sedikit siraman rohani dalam rangka memperingati hari besar umat Islam itu.

Saya pun tidak mau ketinggalan dalam peringatan hari itu, cari tempat strategis agar bisa melihat sang ustadz “beraksi”.
Hmmmm……setelah melihat langsung, harus saya akui bahwa ustadz tersebut (walaupun saya lebih cenderung menyebutnya penceramah) piawai dalam menarik perhatian jamaah yang hadir pada malam itu. Semua terpingkal-pingkal mendengarkan banyolan-banyolan yang disisipkan sang ustadz dalam ceramahnya.

Jujur saja, pada awalnya saya merasa jengah dengan keadaan ini. Karena saya selalu berfikir ritual agama atau segala sesuatu yang menyangkut peribadahan harus dilaksanan dengan sekhusyuk mungkin, dalam keadaan tenang. Bukannya dengan gelak tawa ataupun hingar bingar. Baik ibadah yang dilakukan sendiri ataupun yang melibatkan orang banyak. Bagi saya hal seperti ini akan mengurasi esensi dari sebuah ibadah tersebut.

Tapi tampaknya hal ini tidak berlaku lagi yah…..setidaknya dalam peringatan hari besar yang mengundang salah satu nara sumber. Sudah seperti seleksi alam, biasanya penceramah yang seperti itu semakin kurang diminati oleh para jamaah. Tentu saja hal ini mengakibatkan mereka semakin jarang diundang untuk mengisi acara siraman rohani. Sebaliknya hanya penceramah-penceramah yang piawai menghidupkan suasana dengan lelucon-lelucon segar lah yang semakin digandrungi.

Saya jadi berfikir, sebenernya seorang penceramah sekarang tidak ada bedanya dengan penghibur (entertainer) donk……Saya tidak tahu, apakah ini disebabkan oleh makin tingginya tingkat stress manusia dalam menjalani hidup, sehingga dalam hal penyegaran rohani pun mereka lebih cenderung memilih yang bisa membuat mereka terhibur dan melepaskan ketegangan syaraf, atau memang ini merupakan pergeseran esensi kita dalam menjalankan ritual agama yah??
Well, jawabannya tentu saja saya serahkan kembali pada masing-masing pribadi. Toh pada akhirnya saya beranggapan hal tersebut sah-sah saja, asalkan tidak menyimpang dari ajaran agama itu sendiri.

  READ MORE >>   Catatan Pribadi