READ MORE >>   Ramadhan 2004

Tulisan ketiga dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Ikhlasul Amal.

Hidup ini sebenarnya gampang kok. Kita makan satu piring juga sudah kenyang…, demikian yang diucapkan oleh Bahrul Fuad, salah seorang teman yang dipanggil dengan Cak Fu. Teman satu ini memang istimewa: berbekal kegiatan di LSM di Indonesia, beasiswa dari Ford Foundation mengantarkan menjelajah ilmu sampai di Groningen. Sekalipun diakui bahwa dia terkadang têngêr-têngêr (merasa seperti percaya atau tidak) merenungkan bahwa tidak disangka dan dinyana sampai ke tempat yang jauh sekali dari tempat kelahirannya di Kediri, Jawa Timur.

Benar, hidup itu sebenarnya sederhana, gampang, dan seharusnya menjadi berkah bagi semua orang. Lha untuk apa Gusti Allah meniupkan ruh ke dalam bakal manusia di dalam rahim jika kemudian hanya untuk dibuat bersusah-payah dan menjalani hidup seperti pesakitan yang dipenjara di muka bumi? Apalagi seperti yang dijanjikan sendiri oleh-Nya bahwa semua yang melata pun sudah dijamin rezeki dan penghidupannya, masak terus Gusti Allah lupa dengan janjinya begitu saja.

Makan nasi satu piring cukup; jika tidak ada satu piring, setengah juga dimakan dengan bersyukur. Jika sedang tidak ada juga, ya sudah puasa. Saya pernah menerima telepon dan si pembicara di ujung sana dengan lugasnya menasehati saya, Lha wong orang puasa juga nggak akan mati kok! Iya benar juga: kalau Gusti Allah belum berkehendak saya pergi dari hidup yang fana ini, seharusnya kalau hanya lapar saja tidak akan menyebabkan saya meninggal.

Tapi kok seperti nggaya saya sok “berpuasa karena tidak ada nasi” segala? Bukankah tidak ada nasi, roti pun makanan sehari-hari di Belanda, atau patat, atau jenis lainnya? Esensinya yang lebih penting: bahwa kalau tidak dapat meraih sesuatu yang sepertinya menjadi hak kita, ya monggo kita redakan nafsu yang bergemuruh itu dengan mensyukuri hal lain yang masih kita miliki. Jika orang lain berlomba memiliki mobil pribadi misalnya, dan duit yang kita miliki belum sampai di situ, naik sepeda juga rezeki, bersama-sama penumpang lain di angkot dan bis kota juga rezeki.

Bukankah dengan fasilitas yang lebih bagus, hasil yang diperoleh lebih maksimal? Barangkali benar juga — saya sebut barangkali lho, karena Gusti Allah dalam hal-hal lain juga tidak main seruduk harus yang maksimal. Fotosintesis pada tumbuhan hijau barangkali kalah efisien dibanding pembakaran pada mesin-mesin yang dibuat manusia, namun Pembuatnya sudah memikirkan bahwa hasil akhirnya bukan hanya bermanfaat bagi tumbuhan itu sendiri, namun juga makhluk lain yang menghirup oksigen, hasil dari pembakaran tersebut.

Jangan-jangan pernyataan sederhana tersebut hanya kedok saja karena malas berusaha, bekerja secukupnya, dan setelah itu pasrah. Tentu saja tidak ada orang lain yang tahu persis motivasi setiap orang dengan sikapnya, tidak juga mereka yang menuding seperti itu. Hati yang jernih dan jujur itulah yang dapat menilai dengan tepat. Karena orang malas tentu dikuasai oleh nafsu malasnya, sedangkan orang yang bergemuruh dadanya ingin memiliki semua gunung emas di muka bumi juga dikuasai oleh nafsu kebanggaan yang menyala-nyala.

Ah, bulan Ramadhan sudah menjelang datang. Saya ingin memasukinya untuk lebih menghayati lagi makna hidup yang sebenarnya gampang.

  READ MORE >>   Ramadhan 2004